PhantasMoi


AIR MATA BIDADARI 
(My 1st tale in Fantasy Fiesta 2011 at #320)

Musim purnama kembali menyapanya. Semalaman dia biasa memandangi satu-satunya cahaya bulat sempurna yang mengantung tinggi di luasnya langit kelam. Menantikan bayangan-bayangan menyamping yang sesekali bergerak di balik pendaran-pendaran keemasan.
Suatu saat disana menampilkan siluet sang Ibu dan putrinya duduk di bawah naungan rindang pohon raksasa. Di batang pohon tersebut, sang Ibu bersandar sembari membelai rambut panjang putrinya. Mata cemerlangnya mulai berkaca-kaca.
Saat lainnya, bayangan besar itu hampir menyerupai siluet seorang wanita tengah menyulam kain panjang. ‘Sebuah selendang bercorak pelangi,’ angannya. Mungkin tak lama lagi wanita itu akan mendatanginya dan mengantarkan selendang itu untuknya. Selendang yang akan meringankan tubuhnya bagaikan asap putih yang terus melayang ke langit. Bibir cantiknya tersenyum. Namun hatinya masih pilu.
‘Berapa lama lagi…? Apakah mereka masih belum menerimaku…? Apakah diriku terlalu nista untuk berada disana?’ Batinnya gelisah.  
“Heh! Sudah kuduga kau disana, makhluk merana…,” suara nyaring muncul dari sungai. Bergerak menepi, dimana seorang gadis tengah duduk merenung di atas batu tertinggi. Setengah bagian bawah tubuhnya masih tenggelam di air, dia mendongak ke gadis itu. Mengacungkan sepasang gelang emas berukir Naga kepadanya. “Raja Naga Loreng menghadiahkannya khusus untukmu. Ayo turunlah! CEPAT!”
Gadis itu kembali menceburkan dirinya ke air. Meskipun diterangi purnama, air sungai itu tetap selegam arang. Tidak seindah saat cahaya sebenarnya muncul. Sekalipun hening, para bidadari takkan mau turun dari kahyangan untuk berendam di sungai itu. Tidak juga dirinya. Sayangnya dia tak punya pilihan.
Gelang-gelang itu bukanlah perhiasan semata. Mata-mata zamrud di setiap ukiran muka Naga tersebut menatapnya itu tajam. “Tidak, Arian! Tanpa memakai itu, Raja Naga Loreng tetap bisa mengawasiku. Aku takkan melarikan diri, meskipun Aku mau. Kenapa dia masih menyangsikan sumpahku…?”
“Jaga ucapanmu! Seharusnya kau berterima-kasih masih ada yang menerima keberadaanmu!” Arian menarik satu tangannya, mencengkeramnya keras sampai gadis itu mengerang. Dengan kasar Arian memasangkannya.
Gelang-gelang itu terasa membelilit di kedua lingkar tangannya. Dia menggerenyit.
“Sekarang Aku bisa lebih leluasa menyiksamu di alam kami! SELAMANYA!”
Gadis jelita itu tersenyum kecil menanggapi gertakan Arian.
“Sombong! Jangan harap Raja Naga Loreng akan terus mengistimewakanmu! Sekali kau mengkhianatinya, Akulah keturunan pertamanya yang akan memburumu!” Arian kembali menariknya cepat, tenggelam ke air.

-          Ë  -

Si bocah berambut kriting itu mengangkat tangkupan tangannya setinggi matanya. Memperhatikan kejernihan air yang konstan. Kemudian menyiramkannya ke atas kepalanya. Menggigil sesaat. Namun terus mengulanginya. Kecanduan akan kesegarannya. “Berapa banyak bidadari yang menangis sampai membuat air mata sebanyak ini…? Dan apa yang membuatnya sampai menangis…?”
“Jangan berlebihan. Itu hanya nama,” balas si gadis yang sembilan tahun lebih tua, menyandarkan tengkuknya ke ban pelampung sambil memejamkan mata menikmati hangatnya terpaan sinar matahari dan rambut reboundingnya yang tergerai melayang-layang tersiram air.
Bocah tadi melayangkan pandangannya ke sekeliling sambil berputar-putar pelan asyik mengapung dengan ban karet sewaan yang digoyangkan riak sungai.
Panorama sungai tempat mereka berendam dan bermain air itu sungguh indah. Dinaungi oleh rimbunnya tanaman menghijau dan diselingi warna-warni beberapa bunga liar yang bermekaran. Tadi saat dilihat dari atas bukit, airnya tampak hijau berkilauan. Seolah lumpur yang ada di dalam sungai itu mengandung butiran-butiran kemilau zamrud.
Dia dan kakaknya tak sabar untuk segera menceburkan diri ke dalam kesegarannya. Sampai detik ini, bocah itu masih berdecak kagum akan sungai itu. Belum pernah mereka menjumpai sungai semacamnya.
Sinar matahari menembus hingga ke dasar yang lumayan dalam lantaran beningnya air sungai itu. Koloni ribuan atau mungkin jutaan ikan kecil berenang kesana-kemari tiada lelahnya. Paduan dari pantulan sinar matahari dan warna perak sisik ikan-ikan tersebutlah yang menimbulkan efek bak intan berkilauan dari kejauhan. Bocah itu tak dapat mengungguli kegesitan ikan-ikan tersebut walau sudah berkali-kali berusaha menangkapnya dengan menangkupkan kedua tangan.
“Seharusnya banyak pengunjung yang datang ke tempat seindah dan sekeren namanya ini,” kata Bocah itu menoleh ke setiap arah. Hanya ada segelintir orang di sekitarnya. Para penduduk setempatlah yang mendominasi. Sibuk menuruni bukit dengan memikul gentong-gentong untuk mengambil air di pinggir sungai. Juga beberapa bocah sebayanya yang asyik berenang tanpa pelampung.
“Itu bagus. Kalau ramai, bisa-bisa sungai ini airnya butek dan sang bidadari jelita tak mau lagi mandi disini.”
“Jadi benar kata Kakek?” Mata bocah itu berbinar-binar. “Di sungai ini ada bidadarinya. Waouh! Pantas sungai ini terkesan sungguh luar biasa inda--”
“Maksudku,” sela gadis itu sambil menyengir, “sang bidadari itu Aku. Sudah jelas, kan? Bidadari hanyalah kiasan untuk gadis cantik, baik hati dan menyenangkan sepertiku.”
Bocah itu memutarkan bola matanya kesal, membalas kerlingan Kakaknya. “Heh, para bidadari pasti kesal mendengar itu.”
“Ogy…, Ogy…, jangan terlalu serius menanggapi semua legenda yang diceritakan Kakek… Kau itu sudah hampir tamat SD, kenapa sih masih juga konyol..?”
“Itu bukan hal yang konyol!” Sontak Ogy pun berang. “Kakek tidak mengarang semua legenda luar biasa itu begitu saja! Sampai kapanpun, Aku akan mempercayainya. Meskipun Kakak, teman-temanku dan semua orang menganggapku aneh!”
Gadis itu memandangi wajah bulat adiknya. Kemarahan itu menyembunyikan keluguan yang mengingatkannya dulu. Namun segera dihempaskannya ingatan itu. “Heeeehhh…,” lalu  mulai bercetas-cetus, “dasar keras kepala! Kakek sengaja melebih-lebihkan mitos dan legenda setiap tempat wisata yang kita kunjungi, agar kau semakin penasaran. Hanya untuk menyenangkan fantasimu. Agar kau tak bosan, hanya menikmati pemandangan. Dan yang lebih penting agar kau tidak menghabiskan liburan dengan bermain game. Membaca komik. Nonton DVD. Atau jalan-jalan ke tempat rekreasi mahal dan naik wahana-wahana seru.” Dia berhenti sejenak. Menarik nafas cepat.
“Bukankah Kakek sering mengulanginya?” Lanjutnya, “setiap kita diajak ke pemandian, telaga, air terjun, pasti kisah bidadari itu muncul. Sangat-sangat kony--…Hei! Mau kemana?!”
Ogy cepat menendang-nendangkan kakinya di air, juga mendorong tubuhnya menepi. Mengabaikan seruan Kakaknya, serta melemparkan ban pelampung itu keras ke sungai. Riak air disana mengombang-ambingkannya.
Gadis itu melihat adiknya bergegas menanjaki tanah cadas dan lembab di sisi bukit, tanpa alas kaki. Menuju ke bongkah bebatuan yang separuh bagiannya saling menonjol keluar dari tanah di ujung bukit. Menyerupai tebing kecil. Hanya ada seorang pria berumur disana.
Kalau dari kejauhan, hanya sikap pria itu yang terlihat nyentrik. Duduk dengan kedua kaki bergelantungan tepat di atas jurang pusaran air. Menengadah, menyaksikan derasnya air terjun yang menjulang tinggi.
Tapi penampilannya hari ini terbayang jelas dalam pikiran gadis itu. Mengenakan peci dari kulit kayu, kain bercorak simbol-simbol kuno yang tak dimengertinya, celana sarung, tali pengikat pinggang yang mirip lilitan badan naga dengan gesper kepala harimau dan sandal kulit bertali khas pendekar di masa lalu.
‘Untungnya hanya Ogi yang mungkin akan mewarisi kenyentrikan Kakek,’ batin gadis itu. Lantas kembali melanjutkan keasyikannya. Melentangkan tubuhnya di air dingin, bertopangkan ban pelampung. Menikmati sejuknya aliran sungai dari air terjun, mendengarkan iringan instrumen musik alam dari suara air terjun dan kicauan burung-burung yang bersarang di dahan-dahan pepohonan berdaun lebat.
Matanya memandang jauh ke atas langit sambil merekahkan senyum, seolah menyapa sang matahari yang hari ini tidak begitu garang. ‘Ini benar-benar menyenangkan. Asyiknya kalau setiap siang yang gerah bisa menikmati spa alami seperti ini….,’ pikirnya sambil menghirup udara sejuk sepuasnya.
Gadis itu memejamkan matanya. Lantas merentangkan kedua tangannya ke samping. Mengepak-ngepakkannya sampai ujungnya menari-nari di permukaan air. Riak tenang air sungai menggoyang-goyangkan tubuhnya. Angannya melayang secepat balon yang benangnya terlepas dari genggaman si kecil ke angkasa biru. Tubuhnya terasa ringan. Bagaikan sehelai daun yang terhembusankan angin sampai terlempar ke sungai yang mengalir. Tubuhnya tidak lagi terasa mengambang.
Semakin lama, airnya semakin terasa dingin dan mulai berarus. Namun gadis itu membiarkan dirinya terdorong arus sungai yang seolah membimbingnya ke suatu tempat. Entah kemana, dia tidak begitu merisaukannya. Dia sangat menikmati sensasinya. Seru, mendebarkan sekaligus melegakan.
Dia takut kalau membuka mata, hatinya tidak lagi merasa aman. Mungkin semua sensasi itu lenyap. Dia tak ingin berpisah lagi dengan saat ini.

-          Ë  -

Percikan-percikan dingin tiba-tiba mengusik. “Hei! Hentikan!” Gadis itu memperisai wajahnya dengan kedua tangannya. Cepat membangunkan dirinya dan menurunkan kakinya ke dalam air.
Namun percikan-percikan itu semakin keras menyerangnya. Seakan banyak tangan tengah bertepukan mengoyak ketenangan air sungai.
Dia membuka matanya, tak sabar menghardik bocah-bocah usil yang juga tadi berenang di sungai itu. Detik itu juga mulutnya tak siap membentak. Ternganga.
Ekor-ekor panjang bersisik hijau keperakan itu melambai-lambai di udara dan kembali menghentak-hentak, memecah air gelap di sekelilingnya.
Pusaran air yang semakin deras di depannya menyembulkan sebuah kepala manusia. Seorang perempuan. Rambutnya hitam legam menjuntai lebat, menutupi bagian depan tubuhnya. Memanjang sampai tenggelam ke air. Pupil matanya hijau senyalang pemangsa. Dan ekor-ekor panjang bersisik hijau itu menggantikan sepasang kaki manusianya.
Gadis itu berusaha meneriakkan, ‘toloooooooong….!’ Tapi lidahnya serasa kelu, mulutnya kaku, dan tenggorokannya seperti tercekik. Hanya bisa mendesah dalam hati…, ‘kumohon jangan sakiti Aku…? Jangan bunuh Aku…? Ampuni Aku…’
Perempuan itu menyeringai. Menikmati ekspresi kengerian makhluk lemah dihadapannya. Di baling seringai itu, terselip sepasang taring runcing berkilatan.
Sekejap ekor-ekor panjang itu membelit kaki dan melilit tubuh gadis itu. Mengangkatnya beberapa senti di atas air. Sisik ekor siluman itu terasa kasar dan lengket seperti lidah karnivora raksasa yang menjilati sekujur kulitnya. Menjijikkan!
Jeritan panik itu hanya bisa didengarnya sendiri. Gadis itu melihat sekelilingnya. Keindahan sungai itu menghilang. Tergantikan dengan telaga yang dinaungi tebing-tebing batu menjulang, nyaris seperti benteng. Menghadangi cahaya matahari. Menimbulkan kesingupan juga kemisteriusan. ‘Apakah Aku tengah berada di sarang siluman…? Ataukah ini hanya mimpi buruk…?’
“Secepatnya Aku akan membuat mimpi burukmu menjadi nyata!” Tawa mengerikan perempuan itu menggelegar.
“Lepaskan dia, Arian!”
Siluman perempuan itu menoleh ke suara di belakangnya. Dia mendongak ke atas tebing. Mengeluh.
Sebaliknya, gadis itu terperangah menyaksikan kehadiran sosok sebayanya yang baru saja keluar dari mulut gua di atas tebing itu. Bukan karena takut.
Wajah gadis disana teramat cantik. Rambutnya juga panjang dan hitam, tapi berkilau walau di tempat yang minim cahaya. Sinar matanya begitu cemerlang bagaikan rembulan. Auranya mampu menggetarkan hati siapapun yang melihat.
Dengan sepasang kaki, dia melangkah anggun. Sosoknya tak asing bagi gadis itu. Mengingatkannya seperti figur arca permaisuri atau dewi yang pernah dijumpainya bersama Kakek saat mengunjungi berbagai candi peninggalan kerajaan-kerajaan besar. ‘Mungkinkah kekuatan magis telah menghidupkan arca batu itu…?’ Pikir gadis itu.
“Menyingkirlah, makhluk merana! Jangan menghalangi kesenanganku lagi!”
“Tidak! Aku takkan membiarkanmu menyakiti gadis itu!” Gadis itu melompat dari ketinggian ke air tanpa takut.
Arian tertawa nyaring. Menggetarkan tubuh mungil yang masih dalam jeratannya. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan?” Arian melontarkan lirikan remeh kepada gadis berparas cantik alami yang mulai mendekatinya. Mengambang ringan, menyusuri air yang berwarna hijau gelap, walau tanpa ekor ataupun sirip. “Kau tidak punya keistimewaan apa-apa selain paras cantik yang abadi! Bahkan kau tidak lebih hebat dari makhluk-makhluk angkuh yang sebenarnya amat sangat bodoh. Sepertinya!” Arian menunjuk ke gadis manusia itu, meremas tubuh rapuh itu dengan ekor-ekornya.
Gadis itu meronta-ronta tanpa bisa berteriak.
“Kalian sama-sama LEMAH!” Arian kembali berpaling ke sosok lembut yang sudah tepat di belakangnya.
Sebelum sempat tertawa, jemari-jemari itu mencengkeram tengkuknya. Mencekiknya. “Hidup teramat lama di alammu telah melenyapkan sisi manusiaku!”
Belum pernah Arian melihat tatapan sepasang mata terindah itu berubah sengit. “Sing-kir-kan tangan-mu…!”  Cengkraman itu semakin mengeras sampai ujung kukunya menancap di kulit leher manusia Arian.
“Sia-sia kalau Aku tak mencoba sedikit memanfaatkan kekuatan yang diberikan Raja Naga Loreng kepadaku…untuk menyerangmu…,” bisiknya dingin.
Kini berganti dirinya yang tak berdaya, bahkan untuk berkata. Arian tak percaya, kekuatannya melemah. ‘Sial! Raja Naga Loreng benar menurunkan kesaktiannya kepada makhluk merana ini!’
“Baguslah kalau kau menyadari.”
‘Dia bahkan bisa membaca pikiranku!’ Sepasang tangan Arian terkepal, rahang perempuannya kaku melihat cacian senyum gadis itu.
“Atau sebaiknya Aku menyingkirkanmu…! KAU telah bertindak melampau batas terhadap makhluk lain yang tak berdosa! Bahkan Raja Naga Loreng mulai muak dengan kecerobohanmu!”
‘KAU me-nang….,’ Arian tak mampu lagi mempertahankan kekuatannya. Ekor-ekor bersisiknya mulai mengendur. Tak lama tubuh mangsanya terlepas dan terjatuh ke air.
Cekikan itupun melepaskannya. Membiarkannya mengecamkan, “hanya untuk kali ini!” kepada gadis yang semakin membuatnya dengki. Lalu lenyap ke dalam air.
“Tolooong…..?” Akhirnya teriakan gadis manusia itu kembali terdengar. Tangannya menggapai-gapai, berjuang mengangkat setengah kepalanya ke permukaan air.
Gadis lainnya lekas berenang menyelamatkannya sebelum tenggelam.
“S-siapa kau…?” Pikiran gadis itu juga bergetar penasaran, ‘apakah dia siluman atau bidadari…?’
“Bukan keduanya. Tapi kau tak perlu takut…” Senyum itu semakin memancarkan pesona wajah sempurnanya. “Pejamkan matamu… Aku akan membawamu kembali.”

-          Ë  -

Gadis itu terbangun dari mimpi buruk. Dia melihat sekelilingnya. Semuanya terlihat normal. Dia berada di pangkuan ban pelampung, mengambang di sungai jernih itu. Sinar matahari sedikit meredup, tapi bukan karena terhalangi tebing. Melainkan lantaran hari yang beranjak sore.
Satu yang masih terasa nyata adalah debaran jantungnya. Masih sekencang beberapa menit yang lalu.
“Heih!” Dia terkejut. “Kenapa kau tegang sekali?”
“Ogy…?” Dia menoleh kebelakang, ragu.
“Aneh! Memangnya tampangku mirip siluman apa? Tentu saja ini Aku. Eh, ayo naik! Apa kakak mau semalaman tiduran di sungai ini. Kata Kakek, kalau matahari terbenam, disini begitu kelam dan berbahaya. Para siluman berekor naga bermunculan, mencari mangsa yang lengah. Hiiih….., ” bocah itu bergidik begitu serius.
Gadis itu juga ikut gemetaran. “Kau benar. Sebaiknya kita cepat pulang.”
Ogy melongo. Tak pernah melihat Kakaknya akan merespon khayalannya seserius itu.

-          Ë  -

“Sepertinya kau betah mendiami tempat ini,” ujar suara pria itu.
“Setidaknya disini, Aku takkan dibantai kaum di duniamu.”
“Dunia itu luas, kau bisa hidup nomaden dan melakukan beberapa kecerdikan sepertiku. Para manusia sekarang tidak gampang terancam dengan kutukan atau mempercayai hal-hal mistis seperti leluhur mereka tanpa pembuktian yang mendetail.”
Dia berpaling ke pria itu. Sejenak menatapnya. “Dengan begitu akan memudahkanmu untuk terus menutupi jati dirimu. Semoga saja orang-orang di dekatmu tidak melihat keanehanmu.”
Pria itu tertawa kecil. “Mereka selalu melihatnya. ”
Sepasang mata indahnya melebar.
“Mereka hanya menganggapnya sebagai hal yang konyol dariku. Lagipula, meski Aku bisa hidup jauh lebih lama dari manusia biasa, tapi penampilanku tidaklah selamanya seistimewa dirimu.”
“Bagiku menua sepertimu adalah hal yang istimewa.” Dia berpaling menyaksikan keceriaan dua anak manusia yang jauh di bawah sungai. “Kau beruntung memiliki mereka yang menyayangimu…”
“Bukankah kau dulu juga pernah merasakan kasih sayang yang lebih sejati dariku…?”
Mata terindah itu menerawang jauh. Sekitar tujuh ratus tahun sebelumnya, dirinya pernah bersanding dengan seorang manusia biasa. Hampir setengah abad di awal kehidupannya terlewat tanpa banyak meneteskan air mata. Suaminya tidak mempermasalahkan ketidak-wajaran penampilannya. Bahkan anak serta cucunya tidak bisa mengalahkan pesonanya. Setiap tahun penampilan mereka terkikis usia. Sedangkan dirinya selalu sama. Orang-orang di sekitarnya merasa terusik, namun mereka masih menghormati suaminya yang merupakan orang terpandang di desa itu. Dia tetap setia menemani suaminya yang menua alami. Dan tiada…
Kesinisan orang-orang itu semakin terang-terangan saat terjadi wabah penyakit di desa itu. Ketulusannya untuk membantu mereka yang sakit, ditolak mentah-mentah oleh semua orang. Mereka menyalahkannya sebagai pemicu kesialan, semata karena mereka tak bisa menerima melihatnya sebagai satu-satunya yang terhindar dari penyakit. Banyak nyawa yang tak mampu bertahan.
 Seorang tetua yang dikenal sakti di desa itu mengaku, mendapat bisikan gaib kalau dirinya adalah keturunan tercela. Makhluk yang terlahir akibat tipu muslihat manusia yang tega memanfaatkan kesucian dan kecantikan sang bidadari. Para penghuni kahyangan menolaknya mentah-mentah. Walaupun dia adalah separuh dari bangsa mereka, tapi di dalam dirinya juga mengalir darah licik, egois dan penuh nafsu manusia. Dia mempunyai keistimewaan melebihi manusia namun tanpa kemurnian jiwa serta hati bidadari. Kalau dia dibiarkan tetap hidup di tengah manusia, bukan tidak mungkin dia akan memanfaatkan keistimewaannya yang hanya bisa menimbulkan bencana.
Kemarahan para penduduk yang selamat pun meledak. Ingin membebaskan desa mereka dari kutukan dan hidup tenteram kembali.
Mereka mengikatnya sampai tak berdaya layaknya lembu pengorbanan. Lalu menggeretnya, dan menerjunkannya ke tepi jurang berarus deras. Disanalah tradisi para penduduk desa itu melarung sesaji pada saat-saat tertentu. Tak ada dari keturunannya yang mencegahnya apalagi menyelamatkannya. Semua hati manusia itu membatu melihatnya nyaris ditelan pusaran air.
Seorang pemuda menyeruak dari tirai air terjun seketika mendengar teriakannya. Menyelamatkannya. Pemuda itu adalah pendekar yang terpilih sebagai murid Raja Naga Loreng. Penguasa gua dan sungai kematian yang banyak didiami siluman.
Namun begitu mengetahui kalau muridnya hendak membawa pergi jauh perempuan keturunan bidadari itu, sang Raja pun murka. Nyaris menghabisinya.
“Mungkin Aku akan meninggal dengan tenang saat itu.” Pria itu memandanginya sendu. “Seandainya kau tidak membuat kesepakatan dengan Naga Loreng.  Menyerahkan dirimu kepadanya hanya agar siluman licik itu tidak membunuhku.” Pria itu menyesal pernah mengagumi Raja siluman yang telah mewariskannya setengah kesaktian terkutuk. Membuatnya terus melanglang-buana di dunia teramat lama.
“Itu tidak begitu buruk. Setidaknya setelah sekian lama, kita bisa bertemu kembali…” Senyumnya melebar melihat semburat kecanggungan wajah pria itu.
“Kurasa… kalau Aku terlalu lama disini bersamamu, kita akan mendapatkan masalah.”
“Raja Naga Loreng takkan berani melanggar sumpahnya untuk menya-“
“Bukan, tapi mereka,” Pria itu menggedikkan tatapan ke arah datangnya langkah-langkah yang mulai menanjaki bukit. “Terima kasih telah menyelamatkannya.”
“Mungkin untuk itulah Aku tetap berada disini.”
 
-          Ë  -

Nama sungai itu dulunya adalah sungai kematian. Namun setelah Raja Naga Loreng berhasil memperdayai para penduduk desa disana untuk mengorbankan dan sampai saat ini mempertahankan gadis yang selalu abadi kecantikannya itu di alamnya, sungai itu lebih tepat dinamai sungai Air Mata Bidadari. Hanya indah saat diterangi cahaya matahari. Sebaliknya semakin mengerikan saat malam karena disana menyimpan banyak duka mendalam masa lalu. Tapi duka yang paling memilukan dirasakan gadis itu. Yang selalu merindukan bayang-bayang di balik purnama.