Last night I went to my best friend new home. I had to try hard and got lost before I finally got there. Lucky me, she picked me up at the right time and place.
Pinksiz's home looked so homy. I loved being there. A little sweet sanctuary for getaway. She had a cute two years old son that always made me LOL. So funny, active, nice and smart toddler. Pinksiz is a good mom, she's great to teach her son (Kyan) with ease and cool. I wish I can be like her one day.
Her sharings affected me. She told me how she build and maintain a beautiful and right relationship with her soulmate, which is her hubby, of course. She used to say that her hubby is a kind of a limited edition man. No matter how suck her cooking, he always never mind about it. He's the one that treated her special, even if. Not just like the unlimited men out there, who used to love their ladies because a hundred flawless.
Whenever they got problems, even the serious complicated one, they usually solve all of them right at the moment as good and as possible. Even they both having long distance relationship, since her hubby got to work at Jakarta and went home once a month, they always never doubt to show their affection and caring to each other. Always maintaining a fun chitchatz every day. Always asking what's new of the day, even it is for a simple one. Always sharing a smile even if sometimes they had bad times.
What a lovely little family. Watching those couple made me realize that the true soulmate or love is truly exist in this unpredictable world. Even sometimes, I got cynical about the belief. Even many times, what I've seen to the men always their suck and arrogant sides. I wish that one day, there will be a knight in shining armor or honey dew for me. A man whose down to earth but having braveheart to treat me fairly as his dearest. A man that always brings joy and affection, especially when I need a shoulder to cry on. Just like a honey dew in the dawn.
Sapaan Si Mungil Bersayap
Si mungil bersayap itu menyambutku ketika letih langkahku menjejak ke dalam kamar. Kepakan sayapnya meluncur ringan di depanku, lantas menghinggapi ke belakang layar datar. Seakan dia tengah bersembunyi, mencari sudut yang tepat untuk mengintaiku.
Aku tersenyum memandang si mungil bersayap itu. Menyapanya ceria. Menganggapnya telah menjadi salah seorang yang dekat di hatiku. Kuperhatikan sepasang sayap yang kali ini tidak berpelangi. Cokelat lurik berbatik, menghadirkannya bak sesosok kupu-kupu yang eksentrik. Tak bisa kumenahan telunjukku untuk menyentuhnya. Tapi mungkin terlalu dini buatnya untuk mempercayaiku di saat perjumpaan pertama kami ini. Lekas dia melesat dariku menuju ke sekitar langit-langit kamar.
Cahaya Matahari senja masih bertahan menelusup ke dalam jendela kamarku yang menganga. Namun si mungil bersayap tak biasa itu nampak betah melayang-layang. Bukannya aku berniat mengusirnya, hanya saja aku mencoba menghargai apa yang diinginkan oleh makhluk-makhluk sepertinya. Kurasa bukan hanya mereka, tapi juga semua makhluk di semesta fana ini. “Kebebasan”, apalagi kalau bukan itu?
Kutinggalkan dia sesaat.
Bahkan si mungil itu masih menari-nari memamerkan keistimewaannya yang selalu membuatku iri, begitu aku kembali masuk. Entah apa yang membuatnya begitu. Apakah Sang Penulis Kisahku tengah menitipkan pesan melalui kepakan-kepakan yang menimbulkan kepenasaranku…? Apakah Beliau tengah bermaksud melenyapkan gelisah dan ciutnya perasaanku sedari awal hari ini…?
Harapanlah yang sanggup kudesahkan. Semoga semuanya akan mengarah ke yang lebih mendamaikan dan melapangkan. Semoga aku tak sekedar menjalaninya, merasakannya lalu melupakannya begitu saja. Semoga aku mampu meresapi setiap makna indah di dalamnya. Menjadikannya bekal yang bermanfaat setiap saat. Semoga kisahku akan secerah matahari pagi kala esok hari. Dan semakin cerah sekalipun mendung kelabu melanda atau bahkan gemuruh badai menerpa {^_^}
Langganan:
Postingan (Atom)
