Sapaan Si Mungil Bersayap

Si mungil bersayap itu menyambutku ketika letih langkahku menjejak ke dalam kamar. Kepakan sayapnya meluncur ringan di depanku, lantas menghinggapi ke belakang layar datar. Seakan dia tengah bersembunyi, mencari sudut yang tepat untuk mengintaiku.
Aku tersenyum memandang si mungil bersayap itu. Menyapanya ceria. Menganggapnya telah menjadi salah seorang yang dekat di hatiku. Kuperhatikan sepasang sayap yang kali ini tidak berpelangi. Cokelat lurik berbatik, menghadirkannya bak sesosok kupu-kupu yang eksentrik. Tak bisa kumenahan telunjukku untuk menyentuhnya. Tapi mungkin terlalu dini buatnya untuk mempercayaiku di saat perjumpaan pertama kami ini. Lekas dia melesat dariku menuju ke sekitar langit-langit kamar.
Cahaya Matahari senja masih bertahan menelusup ke dalam jendela kamarku yang menganga. Namun si mungil bersayap tak biasa itu nampak betah melayang-layang. Bukannya aku berniat mengusirnya, hanya saja aku mencoba menghargai apa yang diinginkan oleh makhluk-makhluk sepertinya. Kurasa bukan hanya mereka, tapi juga semua makhluk di semesta fana ini. “Kebebasan”, apalagi kalau bukan itu?
Kutinggalkan dia sesaat.
Bahkan si mungil itu masih menari-nari memamerkan keistimewaannya yang selalu membuatku iri, begitu aku kembali masuk. Entah apa yang membuatnya begitu. Apakah Sang Penulis Kisahku tengah menitipkan pesan melalui kepakan-kepakan yang menimbulkan kepenasaranku…? Apakah Beliau tengah bermaksud melenyapkan gelisah dan ciutnya perasaanku sedari awal hari ini…?
Harapanlah yang sanggup kudesahkan. Semoga semuanya akan mengarah ke yang lebih mendamaikan dan melapangkan. Semoga aku tak sekedar menjalaninya, merasakannya lalu melupakannya begitu saja. Semoga aku mampu meresapi setiap makna indah di dalamnya.  Menjadikannya bekal yang bermanfaat setiap saat. Semoga kisahku akan secerah matahari pagi kala esok hari. Dan semakin cerah sekalipun mendung kelabu melanda atau bahkan gemuruh badai menerpa {^_^}   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar